Selamat Hari Pendidikan


Karena hari ini adalah hari pendidikan nasional, saya jadi ingat kepada salah satu tokoh yang memberikan analisisnya bagaimana pendidikan di Indonesia sekarang tidak cukup mampu untuk ‘mematangkan’ masyarakat. Ketidakmatangan bukan lah suatu perkara kecil. Karena ketidakmatangan ini akan berdampak negatif bagi kemajuan suatu negara.

Beliau mengatakan bahwa ketidakmatangan masyarakat ini adalah tanggung jawab institusi pendidikan dan media. Kedua institusi tersebut bertanggung jawab dalam mengedukasi masyarakat. Institusi pendidikan mengedukasi bukan saja dengan memberikan serangkaian teori dan ilmu pengetahuan. Tetapi juga harus mengajarkan bagaimana moral dan budi pekerti ikut berperan sebagai guide dalam praktek ilmu-ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Begitu juga seharusnya yang dilakukan oleh media, mengingat posisinya yang begitu strategis.

Kita dapat membayangkan apa yang akan terjadi kedua institusi ini dengan peran dan posisi masing-masing memiliki kualitas yang rendah diinternal mereka. Hal ini tentu saja akan memberikan dampak kepada masyarakat kita terlepas dari sedikit atau banyaknya. Oleh karena itu, dalam rangka memperingati Hari Pendidikan, mari kita bergandengan tangan dalam meningkatkan mutu dan mematangan masyarakat Indonesia, terutama bagi media dan insitusi pendidikan di Indonesia.

Tagged , , , , ,

Kerja Keras atau Hoki?


Banyak orang bilang bahwa ketika kita ingin sukses maka kita harus bekerja keras. Tapi hal yang berbeda kita temukan ketika kita bertanya langsung kepada mereka yang sukses mengenai kunci kesuksesannya. Sebagian besar mereka mengatakan bahwa kesuksesan yang didapat karena mereka pada waktu itu hoki mereka sedang bagus.

Seperti pak Hutomo dan bu Susi (pemilik The Body Shop) yang tadi malam mengisi guest lecture di kampus saya. Mereka datang untuk berbagi pengalaman bagaimana mengatur organisasi atau perusahaan dari bawah, dan bagaiman skil enterpreneur dibutuhkan. Perkuliahan malam itu sangat menarik dan setiap orang antusias untuk bertanya kepada mereka.

Ada pertanyaan menarik dari seorang teman yang menanyakan bagaimana mereka bisa terpilih sebagai pemegang franchise The Body Shop (TBS) mengingat pesaing mereka yang begitu kompeten dan memiliki capital dalam jumlah besar. Pak Hutomo pun menjelaskan kronologi dalam pemilihan pemegang francise tersebut. Selain karena mereka memiliki kesamaan misi dengan pemilik TBS, beliau beranggapan bahwa terpilihnya mereka tidak lain karena hoki (terlepas dari dugaan apakah beliau hanya sekedar merendah).

Akan tetapi, pak Hutomo bukanlah satu-satunya orang yang percaya akan keberadaan “Hoki”. Banyak tokoh-tokoh sukses lain yang beranggapan bahwa “Hoki” atau jalan hidup sangat menentukan dalam kesuksesan. Terutama bagi mereka yang sudah mengalami berbagai fase kehidupan.

Terlepas dari semua itu, bagi saya “jalan hidup” harus dibarengi dengan kerja keras. Karena Allah sendiri menjanjikan akan menolong hambanya yang bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. :)

Tagged , , , , , , ,

Membudayakan Nilai dalam Keluarga


Kemaren malam ada materi manerik yang saya dapat di kampus. Kebetulan pada saat itu kita membahas nengenai budaya organisasi. Agak berat sih, tapi ada hal menarik yang bisa kita terapkan dari ilmu ke dalam organisasi kecik bernama keluarga atau pacaran (walaupun itu mungkin tidak termasuk ke dalam organisasi :-P ).

Oke, mati kita lanjutkan. Jadi, pada malam itu pak dosen menggambarkan bahwa budaya dalam suatu organisasi bisa dikategorikan menjadi tiga,yaitu budaya pada tataran kasat, attitude, dan belief.

Pada tataran kasat, budaya hadir dalam bentuk omongan saja. Dalam artian setiap orang mengetahui akan adanya budaya tersebut, akan tetapi mereka belum mengimplementasikannya. Misalnya, setiap orang tahu bahwa membayar pajak adalah kewajiban setiap warga negara. Tapi pada peaktek dilapangan tidak semua orang taat akan pajak.

Tahap berikutnya adalah attitude, dimana budaya sudah mulai dipraktekkan, dan disini nilai yang dipraktekkan oleh setiap orabg mulai menjadi identitas nasung-masing.

Tahap terakhir adalah belief, dimana setiap orang mengimplementasikannya tanpa ada imbauan atau paksaan terlebih dahulu.

Nah, untuk mencapai pada tahapan belief,maka diperlukan serangkaian treatment. Misalnya pada tahapan kasat, maka individu perlu untuk dipaksa agar sampai pada tahapan attitude. Ketika mereka sudah terbiasa dengan nilai tersebut, maka nilai yang ada pada individu akan membudaya.

Dalam praktek organisasi keluarga, sebaiknya setiap orang tua memaksakan nilai-nilai positif kepada anak sedari kecil agar kemudian nilai tersebut bisa menjadi belief yang ada di dalam dirinya. Jadi ketika mereka dewasa kelak, orangtua tidak perlu bekerja keras untuk mengatur langkah sang anak.

Misalnya saja pada kasus yang dialami seorang teman. Ketika usia sudah menginjak dewasa dimana dia dituntut untuk bisa mandiri dan hidup terpisah. Pada awal perantauan teman tersebut tidak mengalami kendala yang berarti karena masih ada saudara kandung yang menemani.

Akan tetapi, ketika teman tersebut harus tinggal sendiri. Dia pun mulai sakit-sakitan, dan merasa selalu sakit. Anehnya, ketika irang-orang terdekat selalu menemani penyakut itu pun serta merta hikang. Tak seorang dokter pun yang mengerti.

Cut the story short, disini kuta dapat mekuhat bahwa sebenatnya bisa saja rejafi suatu krisis dalam diri teman tersebut. Dimana, nilai kemandirian yang seharusnya sudah menjafi belief, tak kunjung terbentuk. Karena memang orangtuanya tidak memaksajan nilai tersebut dari kecil. Sehingga, ketika nilai tersebut dibutuhkan, dia tidak siap, yang pada akhirnya mengakibatkan self crisis.

So,jangan tuntut anak dengan nilai-nilai tertentu yang pada kenyataannya tidaj pernah kita ajarkan. Dan, disinilah biasanya sering menjadi sumbet konflik-konflik dalam keluarga.

Tagged , , , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.