TEORI MEDIA DAN TEORI MASYARAKAT


Denis McQuail (2005) dalam pembahasannya tentang “Teori Media dan Teori Masyarakat” mengemukakan beberapa tema yang jadi perhatian para penelitian komunikasi massa. Pilihlah salah satu tema yang anda sukai dan berikan uraian yang elabortif mengenai tema tersebut. Uraian anda hendaknya berisikan : (1) pokok-pokok pikiran dan/atau persoalan yang dikemukakan dalam pembahasan mengenai tema tersebut, (2) pandangan anda tentang hal tersebut, dilengkapi dengan (3) ilustrasi atau contoh kasus/peristiwa yang relevan dalam konteks situasi dan kondisi di Indonesia.

Media yang merupakan bagian dari komunikasi massa, memiliki banyak tema besar yang menarik untuk dikaji. Beberapa tema besar tersebut adalah :

  1. Kekuasaan dan Ketidaksetaraan
  2. Integrasi sosial dan identitas
  3. Perubahan dan perkembangan sosial
  4. Ruang dan Waktu.

Pembahasan ini akan berfokus pada tema “Kekuasaan dan Ketidaksetaraan”.  Kekuasaan tidak dapat dipisahkan dari pemilik media, dimana nantinya akan mempengaruhi konten yang diproduksi oleh media. Pemilik media merupakan pihak yang kuat yang belum dapat “ditundukkan” dalam demokrasi. Sehingga bukanlah suatu yang mengherankan ketika muncul istilah seorang presiden tidak bisa sukses memimpin sebuah negara sebelum berhasil memimpin dan menaklukkan kuli tinta.

Ranah ini menarik untuk dikaji karena kaitannya dengan pemilik modal, kepentingan politik dan ekonomi, konten yang diproduksi, dan pembentukan opini publik. Sehingga tidak jarang teori yang berjalan dalam koridor tema ini, banyak membahas mengenai pengaruh konten media yang diproduksi oleh pemilik media (notabanenya memiliki kepentingan) terhadap opini publik.

Tema ini berasumsi bahwa media merupakan sebuah lembaga yang memiliki kekuasaan untuk mempengaruhi opini publik dan mempengaruhi bagaimana publik memandang realitas. Salah satu contoh yang bisa mengambarkan kekuatan media adalah ketika masyarakat sering menampilkan pemberitaan negative mengenai pemerintahan SBY, maka publik juga akan menganggap pemerintahan SBY gagal. Padahal faktor yang menyebabkan publik memberikan penilain negatif bukan hanya berasal dari pemberitaan tapi ada faktor lain yang ikut mepengaruhi penilain tersebut.

Hipotesis Efek dari Aspek Kekuasaan Media Massa

I.     Menarik dan Mengarahkan Perhatian Publik

Pengalihan isu merupakan bagian terpenting dari media yang bisa dimanfaatkan oleh berbagai kalangan dengan kepentingan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, tidak jarang berbagai petinggi elit di negara ini yang mencoba menjalin hubungan  dengan pemilik media.

Pengalihan isu sering terjadi dalam pemberitaan media lokal di Indonesia. Pengalihan isu terutama sering dilakukan oleh pemerintah yang sudah mulai terpojok karena diserang dari berbagai pihak. Biasanya pemerintah sudah mempunyai isu-isu yang sudah dipersiapkan semenjak lama untuk kemudian bisa diblow up kapan saja sebagai pengalihan.

Contoh pengalihan isu yang pernah dilakukan oleh pemerintah dengan dimediasi oleh media adalah kasus Century. Ketika kasus ini sudah memuncak dan mulai mengganggu stabilitas pemerintahan, maka pemerintah mulai memblow up kasus terorisme di daerah-daerah atau menggunakan isu NII melalui media yang diikuti pemberitaan besar-besaran oleh media. Disinilah peran media sebagai pengalihan isu, baik mereka melakukannya secara sadar ataupun tidak sadar.

Dewasa ini, semakin pintarnya publik semakin banyak yang bisa menyadari adanya pengalihan isu oleh media untuk kepentingan tertentu. Tapi tidak jarang pula publik yang masih tertipu mentah-mentah.

II.     Mempersuasi Opini dan Keyakinan.

Media dipandang sebagai suatu alat super power yang dapat mempengaruhi dan menggiring opini publik. Oleh karena itu, media tidak jarang dijadikan sebagai alat untuk memfasilitasi kepentingan elit tertentu. Selain itu, media juga tidak terlepas dari kapitalisme ekonomi dan politik yang mengakibatkan media sangat rentan untuk disalahgunakan oleh beberapa pihak tertentu.

Misalnya saja industri media di Indonesia. Dewasa ini media di Indonesia tidak lepas dari ekploitasi dang pemilik modal. Seperti Metro Tv dimana a man behind it adalah Surya Paloh, mantan petinggi partai Golkar yang berpindah haluan dengan mendirikan partai Nasional Demokrat. Partai yang baru berdiri ini, menggunakan Metro Tv sebagai media untuk mempromosikan dan menyampaikan key message dari partainya baik melalui iklan atau liputan langsung.

Berdasarkan asumsi dari tema ini sejatinya publik Indonesia yang menerima pemberitaan mengenai partai Nasdem secara terus menerus akan bersikap positif terhadap partai ini. Akan tetapi fakta dilapangan menunjukkan tidak semua mereka yang diterpa pemberitaan ini bersikap positif. Karena sejatinya banyak gatekeeper didalam masyarkat yang baik secara langsung atau tidka langsung ikut berpengaruh.

III.     Mempengaruhi Perilaku Secara Sengaja atau Tidak

Asumsi dari hipotesis efek media massa berikutnya adalah media massa dapat mempengaruhi perilaku baik secara sengaja atau tidak. Bentuk dari konten media yang dapat mempengaruhi perilaku adalah iklan, advertorial, maupun liputan langsung. Akan tetapi, semakin natural produk dari media tersebut makan akan semakin mudah publik untuk dipengaruhi.

Misalnya publik akan membeli suatu produk ketika media menampilkan seorang artis menggunakan produk itu dalam kehidupan sehari-hari dibandingkan dengan iklan mengenai produk tersebut. Karena publik sudah cukup cerdas untuk tidak terpengaruh secara langsung oleh iklan.

Akan tetapi ditengah publik yang cerdas iklan yang merupakan produk dari media massa mempengaruhi perilaku publik secara tidak langsung atau dikenal dengan istilah third person effect.

IV.     Mendefinisikan Realitas

Media massa juga dipercaya dapat mempengaruhi publik dalam mendefinisikan realitasnya. Kemampuan ini lah yang kemudian menjadi bahan kritik bagi mereka yang menganut paham marxisme. Karena kaum ini beranggapan bahwa media dimanfaatkan oleh kalangan borjuis untuk membentuk persepsi yang salah dikalangan proletar.

Contoh dari efek ini bisa kita lihat bagaimana perempuan di Indonesia mendefinisikan perempuan cantik itu sebagai seseorang dengan kulit putih, kurus, rambut hitam dan panjang. Padahal dalam kehidupan nyata tidak ada yang pernah mendefinisikan wanita cantik seperti gambaran tersebut. Media massalah yang membentuk realitas ini melalui berbagai produknya. Maka bukanlah suatu hal yang mengherankan ketika banyak wanita di Indonesia berlomba-lomba untuk mendapatkan kulit putih dan tubuh yang kurus.

V.     Memberikan Status dan Legitimasi

Salah satu efek berbahaya dari media massa adalah memberikan status dan legitimasi. Efek ini banyak sekali ditemukan di Indonesia terutama dalam pemanfaatan media massa dalam ranah hukum dan politik. Misalnya saja banyak media massa yang memberikan status tersangka kepada beberapa orang yang diperiksa oleh KPK. Padahal mereka belum ditetapkan statusnya oleh KPK, tetapi media sudah meneptakan status mereka sebagai tersangka dalam pemberitaannya.

VI.     Memberikan Informasi dengan Cepat dan Luas

Hal yang tidak bisa kita pungkuri dan diingkari adalah kekuatan media massa dalam penyebaran informasi secara cepat dan massal. Bahkan dengan semakin canggihnya teknologi saat ini, informasi dapat diterima publik secara realtime.

VII.     Lebih gampang diakses oleh mereka yang mempunyai kekuasaan secara politik dan ekonomi

Media massa merupakan suatu industri yang membutuhkan modal yang besar. Oleh karena itu, bukanlah suatu hal yang mengherankan ketika media massa dimanfaatkan oleh orang-orang yang bermain diranah ini, terutama mereka yang mempunyai kekuasaan.

Misalnya ketika presiden yang mempunyai kekuasaan disuatu negara akan lebih mudah mengakses media massa terkait pemberitaan dibandingkan dengan khalayak yang notabanenya orang biasa-biasa saja.

Teori-teori seputar Tema

  • Teori Jarum Hipodermik,

Teori ini berasumsi bahwa media merupakan suatu kekuatan yang luar biasa, sedangkan khalayak dianggap tidak berdaya. Sehingga ketika khalayak ditembak dengan berbagai informasi dari media massa, khalayak akan mlangsung menerimanya tanpa filter.

  • Information Seeking Theory,
  • Agenda Seting,

Asumsi dari teori ini adalah (1) pers dan media tidak mencerminkan realitas yang sebenarnya, melainkan mereka membentuk dan mengkonstruk realitas tersebut. (2). media menyediakan beberapa isu dan memberikan penekanan lebih kepada isu tersebut yang selanjutnya memberikan kesempatan kepada publik untuk menentukan isu mana yang lebih penting dibandingkan dengan isu lainnya

  • Spiral of Silence,
  • Teori Kultivasi.

Teori ini memperdiksikan dampak tidak langsung pada cara berpikir masyarakat mengenai isu-isu tertentu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s