Membudayakan Nilai dalam Keluarga


Kemaren malam ada materi manerik yang saya dapat di kampus. Kebetulan pada saat itu kita membahas nengenai budaya organisasi. Agak berat sih, tapi ada hal menarik yang bisa kita terapkan dari ilmu ke dalam organisasi kecik bernama keluarga atau pacaran (walaupun itu mungkin tidak termasuk ke dalam organisasi :-P).

Oke, mati kita lanjutkan. Jadi, pada malam itu pak dosen menggambarkan bahwa budaya dalam suatu organisasi bisa dikategorikan menjadi tiga,yaitu budaya pada tataran kasat, attitude, dan belief.

Pada tataran kasat, budaya hadir dalam bentuk omongan saja. Dalam artian setiap orang mengetahui akan adanya budaya tersebut, akan tetapi mereka belum mengimplementasikannya. Misalnya, setiap orang tahu bahwa membayar pajak adalah kewajiban setiap warga negara. Tapi pada peaktek dilapangan tidak semua orang taat akan pajak.

Tahap berikutnya adalah attitude, dimana budaya sudah mulai dipraktekkan, dan disini nilai yang dipraktekkan oleh setiap orabg mulai menjadi identitas nasung-masing.

Tahap terakhir adalah belief, dimana setiap orang mengimplementasikannya tanpa ada imbauan atau paksaan terlebih dahulu.

Nah, untuk mencapai pada tahapan belief,maka diperlukan serangkaian treatment. Misalnya pada tahapan kasat, maka individu perlu untuk dipaksa agar sampai pada tahapan attitude. Ketika mereka sudah terbiasa dengan nilai tersebut, maka nilai yang ada pada individu akan membudaya.

Dalam praktek organisasi keluarga, sebaiknya setiap orang tua memaksakan nilai-nilai positif kepada anak sedari kecil agar kemudian nilai tersebut bisa menjadi belief yang ada di dalam dirinya. Jadi ketika mereka dewasa kelak, orangtua tidak perlu bekerja keras untuk mengatur langkah sang anak.

Misalnya saja pada kasus yang dialami seorang teman. Ketika usia sudah menginjak dewasa dimana dia dituntut untuk bisa mandiri dan hidup terpisah. Pada awal perantauan teman tersebut tidak mengalami kendala yang berarti karena masih ada saudara kandung yang menemani.

Akan tetapi, ketika teman tersebut harus tinggal sendiri. Dia pun mulai sakit-sakitan, dan merasa selalu sakit. Anehnya, ketika irang-orang terdekat selalu menemani penyakut itu pun serta merta hikang. Tak seorang dokter pun yang mengerti.

Cut the story short, disini kuta dapat mekuhat bahwa sebenatnya bisa saja rejafi suatu krisis dalam diri teman tersebut. Dimana, nilai kemandirian yang seharusnya sudah menjafi belief, tak kunjung terbentuk. Karena memang orangtuanya tidak memaksajan nilai tersebut dari kecil. Sehingga, ketika nilai tersebut dibutuhkan, dia tidak siap, yang pada akhirnya mengakibatkan self crisis.

So,jangan tuntut anak dengan nilai-nilai tertentu yang pada kenyataannya tidaj pernah kita ajarkan. Dan, disinilah biasanya sering menjadi sumbet konflik-konflik dalam keluarga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s