Peran Komunikasi Orangtua-Anak Dengan Pembentukan Identitas Etnik Pada Generasi Kedua Perantau Minang


Peran Komunikasi Orangtua-Anak Dengan Pembentukan Identitas Etnik Pada Generasi Kedua Perantau Minang

ABSTRACT

Merantau is a migration from one place to another place to find out a better life or knowledge. In Indonesia, most of all the society had migrated from their hometown. There are some ethnic that known as ‘perantau sejati’. They are Minang, Bugis, Batak, and Banjar. Variety factors that leads this ethnic to do migration. For example economic factor, knowledge, and philosophy of life. Parallel with this migration, a new phenomenon would appears, and it is very ascending to be studied. That phenomenon are how migrant can survive and adapt to new culture. While, they have a different cultures. The other interesting phenomenon is how they can educate their kid about the culture, in order to make ethnic identity. Therefore, the author was interested in conducting an analysis about the role of parental communication in the formation of ethnic identity on second generation of Minang’s migrant.
Keyword : Parental Communication, Ethnic Identity, Merantau, Minang.

PENDAHULUAN
Merantau bukan lah hal yang baru bagi masyarakat di Indonesia. Hampir seluruh masyarakat Indonesia mengenal dan paham dengan kata ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merantau berasal dari kata rantau yang berarti pantai sepanjang teluk atau daerah yang berada di luar daerah sendiri atau yang berada di luar kampung halaman. Sedangkan merantau sendiri diartikan sebagai pergi ke negara lain untuk mencari penghidupan, ilmu, dsb. Berdasarkan definisi tersebut, kita dapat menarik kesimpulan bahwa merantau merupakan suatu kegiatan pergi ke tempat lain atau meninggalkan kampung halaman untuk mencari penghidupan, ilmu, dsb.
Istilah lain yang berhubungan dengan merantau adalah perantau. Dalam KBBI, perantau diartikan sebagai orangyang mencarai penghidupan, ilmu, dsb di negara lain. Di Indonesia, perantau datang dari berbagai macam latar blakang suku, dimana hampir sebagian besar suku pernah merantau ke berbagai daerah. Namun, hanya beberapa suku yang dikenal sebagai perantau ‘sejati’, karena jumlah mereka yang cukup signifikan dalam merantau, diantaranya adalah (adat minangkabau dan merantau, hal 121) ;
1.    Suku Minang
2.    Suku Bugis
3.    Suku Banjar
4.    Suku Batak-Tapanuli

Menurut sejarah, suku Bugis mulai merantau ketika Kerajaan Gowa mengalami kekalahan dari Belanda. Kekalahan tersebut membuat masyarakat suku Bugis yang rindu akan kebebesan memilih merantau ke beberapa daerah di Indonesia. Sebagian besar perantau Bugis merantau ke arah barat Indonesia. Sesampainya di perantauan, banyak perantau yang menetap, tetapi ada juga yang memilih untuk terus berlayar dan memilih menjadi bajak laut.

Sementara itu, suku Batak baru merantau dalam jumlah yang cukup signifikan pada akhir abad ke-19 atau lebih tepatnya awal abad ke-20. Menurut sebuah sensus di tahun 2006,  jumlah perantau suku batak sebanyak 19.8% dari total populasi. Hal tersebut menempatkan suku Batak pada posisi ketiga sebagai perantau terbanyak setelah suku Minangkabau dan Suku Bugis. Bagi masyarakat Batak, merantau merupakan bagian falsafah hidup yang harus dipegang. Hal ini lah yang kemudian diduga menjadi pemicu terjadinya migrasi dalam jumlah besar.
Beberapa literatur mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor yang melatarbelakangi individu untuk merantau diantaranya adalah tradisi, faktor ekonomi, pengetahuan, dan lain-lain. Akan tetapi, dewasa ini, sebagain besar suku merantau dengan alasan untuk mencari kehidupan yang lebih baik (faktor ekonomi) dan rasa haus akan ilmu pengetahuan.

Suku Minang dan Budaya Merantau
Merantau tidak dapat dipisahkan dari masyarakat suku Minang. Hal tersebut karena, merantau sudah mendarah daging bagi suku ini. Jika dilihat dari kaca mata sejarah, konon kabarnya, kelahiran gerakan merantau pertama kali dipicu oleh pemberontakan PRRI. Pada masa itu, AH Nasution mendapatkan tugas untuk memberantas pengikut PRRI sampai ke akarnya. Namun, AH Nasution memilih menawarkan jalan tengah ke pendukung PRRI. Akan tetapi, bagi pengikut PRRI, solusi tersebut merupakan sebuah bentuk penindasan terhadap harga diri. Oleh karena itu, banyak dari pengikut yang memilih untuk keluar daerah mereka untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Sementara itu, jika dikaji dari segi budaya, maka merantau bisa dikatakan sebagai falsafah hidup yang dipegang oleh masyarakat suku Minang. Hal tersebut tercantum dalam suatu pantun seperti dibawah ini;

Karatau madang di hulu,
Berbuah berbunga belum,
Merantau bujang dahulu,
Di rumah berguna belum,

Yusriwal, Dosen Sastra Universitas Andalas, mengartikan pepatah adat di atas sebagai kewajiban orang Minang yang sudah dewasa untuk merantau. Hal tersebut karena jika mereka di rumah (lebih luasnya di kampung) belum dapat berbuat sesuatu yang berarti. Maka diharapkan setelah merantau dalam rangka mencari ilmu, maka perantau kembali pulang untuk membangun kampung.
Namun, dewasa ini, terjadi pergeseran tujuan perantau dalam merantau. Sebagian besar masyarakat suku Minang memilih merantau untuk mendapatkan kehidupan dan ilmu yang lebih baik. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya masyarakat suku Minang yang berniaga di daerah perantauan. Selain itu, generasi muda Minang juga mulai banyak merantau ke pulau Jawa dalam rangka menuntut ilmu mengikuti jejak leluhur mereka.
Berdasarkan penjelasan diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa ada beberapa faktor yang mendorong masyarakat suku Minang untuk merantau, yaitu budaya, faktor ekonomi, dan mencari ilmu pengetahuan. Hal senada juga diungkapkan oleh Mochtar Naim dalam buku Merantau Pola Migrasi Suku Minangkabau, yang menyatakan alasan terbesar orang Minangkabau pergi merantau karena persoalan ekonomi. Alasan lain, karena melanjutkan studi dan pendidikan. Juga, akibat alasan sosial, semisal sistem sosial yang tertutup dan juga tekanan adat. Yang menarik adalah akibat alasan kejiwaan, untuk mengikuti tradisi merantau.

PEMBAHASAN
Gegar Budaya
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, perantauan diartikan sebagai negeri lain tempat mencari penghidupan dsb; daerah yg didiami oleh orang yg berasal dari daerah lain. Jadi, perantauan bisa diartikan sebagai daerah tujuan dari perantau, dimana disana mereka mengadu nasib untuk mendapatkan penghidupan atau ilmu yang lebih baik. Bagi masyarakat suku Minang, hampir semua daerah di Indonesia menjadi daerah tujuan untuk merantau. Akan tetapi, ada beberapa destinasi favorit seperti Pekanbaru (diperkirakan 40% dari jumlah penduduk bersuku Minang). Selain itu, daerah lain yang sangat menarik bagi perantau adalah beberapa daerah di Pulau Jawa.
Daerah perantauan tak jarang menjadi ‘momok’ yang menakutkan bagi perantau, terutama bagi mereka yang belum memiliki perantau pendahulu di daerah perantauan. Ketakutan tersebut merupakan hal yang wajar, karena mereka tidak memiliki gambaran sama sekali mengenai daerah tujuan, seperti bagimana budaya orang di daerah perantauan dan bagaimana cara harus berinteraksi dengan orang baru tersebut. Hal tersebut, di dalam ilmu komunikasi antarbudaya, biasa dikenal dnegan istilah geger budaya atau culture shock. Gegar Budaya (culture shock) adalah suatu penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan atau jabatan yang diderita oleh orang-orang yang secara tiba-tiba berpindah atau dipindahkan ke luar negri (Mulyana, 2009; 174).
Menurut Deddy Mulyana, di dalam buku Komunikasi Antarbudaya, gegar budaya ditandai oleh kehilangan tanda-tanda dan lambang-lambang dalam pergaulan sosial. Lebih lanjut, Deddy mengungkapkan kehilangan tersebut diakibatkan karena penggunaan tanda dan lambang dipengaruhi oleh faktor budaya. Sehingga, ketika berada di perantauan, perantau tidak akan menemukan tanda dan lambang yang biasa digunakannnya di kampung halaman. Misalnya saja, perantau akan jarang menemui penggunaan bahasa Minang di perantauan. Oleh karena itu, perantau hendaknya menggunakan bahasa daerah perantauan agar dapat mengurangi gegar budaya yang ada sehingga mampu beradaptasi. Akan tetapi, untuk mencapai fase adaptasi, perantau terlebih dahulu harus melewati beberapa tahapan.
Fase pertama (menurut Oberg dalam Mulyana; 2009) dikenal dengan isitilah fase kegembiraan atau optimisik. Hal tersebut karena, pada fase ini perantau merasakan sambutan yang hangat dari penduduk setempat. Biasanya penduduk setempat akan bersikap lebih aktif untuk mengenal lebih dekat perantau. Sehingga, muncul perasaan akan adanya pengakuan dan penerimaan terhadap perantau. Akan tetapi, fase ini hanya berlangsung paling lama satu bulan.
Fase selanjutnya dikenal dengan fase gegar budaya, karena perantau mulai menyadari akan adanya perbedaan dan berbagai masalah mulai muncul. Permasalahan pada fase ini, biasanya disebakan oleh perbedaan bahasa, nilai, dan keyakinan antara perantau dengan tuan rumah, sehingga tidak jarang menimbulkan kebingungan yang berujung pada kesulitan dalam beradaptasi dan berkomunikasi. Permasalahan pada fase ini dapat diatasi dengan cara, perantau terus berkomunikasi dan berinteraksi dengan tuan rumah untuk mencari tahu lebih dalam kebudayaan mereka.
Fase ketiga adalah fase dimana individu mulai mengerti mengenai elemen-elemen budaya setempat seperti nilai-nilai, pola komunikasi, keyakinan, perilaku, dsb, yang dapat membuat perantau mulai merasa nyaman untuk terus berinteraksi dengan tuan rumah.
Fase terakhir adalah fase dimana individu menyadari bahwa tidak ada budaya yang lebih bagus atau jelek, yang ada hanya perbedaan diantara budaya satu dengan yang lainnya. Pada fase ini, biasanya individu telah mengambil sikap terhadap kebudayaan baru tersebut, apakah akan mengadopsinya secara utuh (menjadikannya sebagai identitas baru) atau hanya sekedar mengetahui dan tetap berpegang teguh terhadap kebudayaan asalnya.
Apabila kita merujuk kepada acculturation framework yang diperkenalkan oleh John Berry, maka ada empat pilihan yang bisa dipilih oleh perantau ketika telah sampai pada fase ke empat. Berry membuat pilihan tersebut dengan mempertimbangan dua faktor yaitu keinginan untuk mempertahankan suatu budaya dan keinginan untuk berinteraksi dengan budaya tersebut. Berdasarkan faktor-faktor tersebut Berry membagi acculturation attitudes ke dalam empat kategori yaitu

1.    Assimilation, merupakan keadaan dimana individu tidak memiliki keinginan untuk menjaga kebudayan asal dan lebih memilih untuk menjalin hubungan dan berinteraksi dengan tuan rumah.
2.    Integration, merupakan keadaan dimana individu memiliki keinginan untuk menjaga kebudayaan asal dan tetap menjalin hubungan atau berinteraksi dengan tuan rumah. Dengan kata lain, disini individu tetap memiliki identitas etnik asal tapi tetap menghargai kebudayaan tuan rumah.
3.    Separation, keadaan dimana individu memiliki keinginan untuk terus menjaga dan melestarikan kebudayaan asal, namu memilih untuk tidak berinteraksi dengan tuan rumah. Ini lah yang dikatakan sebagai kegagalan dalam mengatasi geger budaya, karena individu memilih memisahkan diri dan pada akhirnya memutuskan untuk kembali ke daerah asal.
4.    Marginalization, keadaan dimana individu tidak memiliki keinginan untuk melestarikan kebudayaan asal dan tidak memiliki keinginan untuk menjalin interaksi dengan tuan rumah. Hal ini biasa terjadi pada individu yang sering didiskriminasi dalam suatu kelompok masyarakat. Misalnya saja, di Amerika, beberapa tahun yang silam, ras kulit Hitam sering mengalami tindakan ketidakadilan dan diskriminasi oleh ras kulit putih.

Gambar 1 Acculturation Attitudes From Berry’s Fourfold Models
(sumber: http://www.latinodv.org)

Perantau dan Gegar Budaya
Gelombang merantau yang dilakukan oleh suku Minang selama berpuluh-puluh tahun menimbulkan suatu fenomena unik bagi kajian komunikasi. Hal tersebut karena, sepanjang terjadinya gelombang merantau, jarang sekali terdengar konflik yang terjadi antara perantau dan tuan rumah. Ada sebuah pameo yang kemudian sering digunakan untuk menjawab fenomena ini. Banyak orang bilang, jarangnya perantau dari Minang berkonflik dengan tuan rumah lebih disebabkan karena kemampuan mereka bersilat lidah. Tidak dapat dipungkuri bahwa kemampuan ‘bersilat lidah’ atau berkomunikasi merupakan bagian penting dalam menjalin dan membina hubungan. Karena sejatinya manusia adalah makhluk komunikasi yang tidak dapat hidup tanpa berkomunikasi.
Komunikasi merupakan proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau untuk mengubah sikap, pandapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan, maupun tak langsung melalui media (Effendy, 2004:4). Jika dikaitkan dengan kasus yang diangkat dalam artikel ini, maka kita dapat menarik sutau benang merah bahwa perantau menggunakan komunikasi sebagai alat untuk mendapatkan informasi mengenai kebudayaan setempat yang bertujuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka dalam rangka proses adaptasi.
Selain itu, perantau juga menggunakan komunikasi sebagai alat untuk berkomunikasi dengan sesama perantau untuk sekedar mencari hiburan sampai dengan pelestarian budaya asal. Hal ini dapat kita lihat dengan banyaknya persatuan atau komunitas perantau di daerah perantauan. Hampir di setiap daerah memiliki ikatan atau persatuan perantau. Biasanya ikatan keluarga tersebut dibentuk berdasarkan kesamaan daerah asal seperti Ikatan Keluarga Tanah Datar, Suliak Aia Sapakat, dan lain-lain.
Berbagai kegiatan biasanya diselenggarakan oleh masing-masing ikatan keluarga tersebut, diantaranya acara tahunan seperti buka bersama dan halal bi halal; acara tempor seperti pengumpulan dana untuk korban bencana alam atau pengumpulan dana untuk pembangunan daerah asal. Dari berbagai kegiatan tersebut kita dapat melihat bahwa bagaimana mereka masih terus mengingat daerah asal dan ingin terus melestarikan kebudayaan asal meskipun berada di perantauan (masih memiliki identitas etnik daerah asal).
Akan tetapi, pemeliharaan identitas etnik ini biasanya hanya berada pada generasi pertama perantau, yaitu perantau yang pertama kali datang ke perantauan. Hal tersebut karena secara psikologis mereka masih memiliki kedekatan emosional dan memiliki pengalaman dengan kebudayaan asal. Sedangkan generasi ke dua mereka jarang berinteraksi dengan kebudayaan asal bahkan ada yang sama sekali tidak pernah mengenalnya.

Identitas Etnik Generasi Kedua Perantau di Perantauan
Apabila kita mengkaji lebih dalam mengenai identitas etnik yang dimiliki oleh generasi kedua perantau suku Minang dengan menggunakan acculturation attitudes milik Berry, maka kita dapat mengelompokkan generasi tersebut ke dalam beberapa kelompok seperti gambar di bawah ini.

Tabel 1 Klasifikasi Identitas Etnik Generasi Ke-2 Perantau di Perantauan
(berdasarkan acculturation attitudes Berry)
Integration    Assimilation    Separation    Marginalization
Organisasi berbasis daerah    x    –    x    –
Bahasa Minang
Memahami    x    –    x    –
Menggunakan    x    –    x    –
Kesenian Minang
Konsumen    x    –    x    –
Pelaku    x    –    x    –

Berdasarkan tabel diatas kita dapat melihat bahwa ada empat kemungkinan identitas etnik yang akan dipilih oleh generasi kedua perantau. Berikut penjelasan dari masing-masing kategori identitas etnik tersebut :
1.    Integration, ciri-ciri dari integration adalah generasi perantau ke dua memiliki rasa kepemilikan terhadap kebudayaan asal terlihat dengan kemampuan memahami dan menggunakan bahasa Minang, menyukai dan mampu mempraktekkan kesenian Minang, serta mau tergabung dalam organisasi atau ikatan keluarga perantau. Identitas ini bisa tercapai, apabila generasi pertama (dalam hal ini orangtua) mau mengkomunikasikan mengenai kebudayaan asal serta mau mengajak generasi kedua  untuk ikut berpartisipasi dalam ikatan keluarga perantau. Hal tersebut karena salah satu fungsi komunikasi menurut Harold Laswell adalah pelestarian budaya. Diharapkan dengan komunikasi tersebut, orangtua dapat mengedukasi anak tentang kebudayaan Minang, dimana tujuan akhir pelestarian kebudayaan dapat tercapai.
2.    Assimilation, identitas ini ditandai dengan tidak adanya keinginan generasi ke dua untuk melestarikan kebudayaan yang dimiliki oleh generasi pertama. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya keinginan untuk tergabung ke dalam organisasi perantau, tidak memahami dan menggunakan bahasa Minang, dan tidak mengkonsumsi kesenian Minang. Selain itu, identitas ini ditandai dengan identitas etnik baru yang dipilih oleh generasi ke dua. Identitas etnik baru tersebut biasanya berasal dari mengkonsumsi kebudayaan setempat, atau dengan kata lain individu tersebut memilih identitas sebagai ‘penduduk’ asli setempat. Faktor penyebab muncul identitas assimilation di generasi kedua disebabkan oleh jarangnya ornagtua mengkomunikasikan kebudayaa daerah asal. Sehingga mereka sama sekali tidak mengenal kebudayaan tersebut. Atau, orangtua telah mengkomunikasikan hanya saja anak lebih menyukai atau terbiasa dengan kebudayaan setempat.
3.    Separation, ditandai dengan individu yang memiliki keinginan melestarikan kebudayaan daerah asal. Hal ini dapat dilihat dari adanya keinginan untuk tergabung dalam organisasi perantau, memahami dan menggunakan bahasa Minang, serta mengkonsumsi kesenian Minang. Perbedaan mendasar antara separation dan integration adalah rasa kepemilikan yang lebih tinggi terhadap budaya asal dapat dijumpai pada pemilik identitas separation. Selain itu, separation ditandai dengan tidak adanya keinginan untuk berinteraksi dengan penduduk setempat. Hal tersebut bisa disebabkan oleh ketidaksenangan terhadap kebudayaan setempat yang dianggap tidak lebih baik dari kebudayaan asalnya. Faktor lain yang mungkin dapat menyebabkan munculnya identitas ini adalah adanya sikap diskriminasi oleh tuan rumah.
4.    Marginalization, keadaan dimana individu tidak memiliki ketertarikan untuk memelihara kebudayaan asal dan tidak juga memiliki keinginan untuk mengadopsi kebudayaan setempat. Hal ini bisa disebabkan oleh ketidaksenangan individu terhadap ke dua kebudayaan tersebut, dan memilih untuk mengadopsi kebudayaan lain. Faktor lain yang mungkin dapat memicu timbulnya identitas ini adalah adanya pemikiran bahwa kebudayaan dan identitas etnik bukan lah suatu hal yang penting.

KESIMPULAN DAN SARAN
Dari pemaparan dan analisis diatas maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.    Komunikasi merupakan salah satu alat yang sangat berperan dalam membantu perantau beradaptasi dengan lingkungan barunya.
2.    Komunikasi dapat digunakan sebagai alat untuk mensosialisasikan dan mengedukasi kebudayaan asal perantau kepada generasi penerusnya.
3.    Komunikasi berupa sosialisasi dan edukasi kebudayaan dapat mempengaruhi pengambilan keputusan generasi ke dua dalam memilih identitas etnik.

DAFTAR PUSTAKA
Buku
Effendy, Onong Uchjana. 2004, Dinamika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Kato, Tsuyoshi. 2005. Adat Minangkabau dan Merantau dalam Perspektif Sejarah. Jakarta: Balai Pustaka.
Mulyana, Deddy. 2009. Komunikasi Antarbudaya. Bandung: PT Rosdakarya.

Jurnal
Berry, John W.2005. Acculturation: Living successfully in two cultures. International Journal of Intercultural Relations.
Ward, Colleen. Rana-Deuba, Arzu. 1999. Acculturation and Adaptation Revisited. Journal of Cross-Cultural Psychology.

Internet
http://www.kbbi.web.id

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s