Fenomena Kuanti dan Kuali di Kalangan Mahasiswa


Minggu ini merupakan minggu yang cukup melelahkan. Karena beberapa hari ke depan saya akan menjadi penguji di beberapa sidang skripsi. Seperti biasanya, beberapa hari sebelum sidang dimulai, dosen penguji akan diberi foto kopi naskah skripsi.

Beberapa skripsi yang baca sejauh ini cukup membingungkan untuk dibaca dan ditelaah, baik dari segi penulisan maupun logika berfikir. Tapi tak apalah itu sudah lazim. Berbicara mengenai kelaziman, saya jadi teringat percakapan yang akan sering sekali ditemukan diantara dua mahasiswa yang sedang skripsi.

A: lo pake metode apa?
B: kuantitatif, kalau lo?
A: kalau gw kualitatif. Gw nggk suka hitung-hitungan makanya ambil kuali.
#lohkok.

Itu lah fenomena yang sudah lazim terjadi. Memang kuanti melibatkan hitungan yang berefek penelitian agak sedikit kompleks. Tetapi bukan berarti dengan kualitatif kalian bisa menggampangkan penelitian. Seperti sebuah naskah skripsi yang baca tadi. Mentang-mentang kualitatif cenderung bernarasi, mahasiswa cenderung untuk mengarang indah tanpa memperhatikan aspek teoritis yang berakibat tidak adanya ruh dalam penelitian.

Jadi mba dan mas, kualitatif memang terkait narasi tetapi bukan berarti kamu bisa mengarang indah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s