Buya Hamka dan Ide Pemikiran


Saya memiliki beberapa buku karangan Buya Hamka di rumah. Sejujurnya, buku-buku tersebut merupakan penghuni lama rak buku. Hanya saja, saya masih belum memiliki kesempatan untuk membaca buku tersebut. Dua minggu terakhir, saya memiliki kesempatan untuk  menyelami pemikiran Buya Hamka. Ada tiga buah buku sebenarnya yang saya baca, yaitu:

  1. Falsafah Hidup
  2. Ghirah Cemburu Karena Allah
  3. Pribadi Hebat

IMHO, ketiga buku di atas sangat menarik. Setiap buku memberikan sensasi dan pesan yang berbeda-beda kepada saya. Hanya saja, buku “Ghirah Cemburu Karena Allah” yang berhasil saya baca dengan cepat. Selain karena bukunya sangat tipis, buku ini juga memiliki cerita yang sangat relevan dengan keadaan di Indonesia saat ini.

Buku Ghirah Cemburu Karena Allah (GCKA) bercerita mengenai bagaimana manusia Indonesia, pada saat itu, mulai banyak mengalami pergeseran nilai dan gesekan-gesekan sosial. Hal tersebut karena manusia tidak lagi menjadikan Allah sebagai alasan untuk cemburu (jealous in a good way). Manusia sudah disibukkan dengan hal-hal duniawi.

Selain itu, Buya Hamka juga menyebutkan bahwa fenomena tersebut merupakan hasil dari perang pemikiran, dimana negara barat mulai memasukkan nilai-nilainya melalui berbagai cara. Salah satunya adalah media. Sebagai contoh, Buya Hamka menggambarkan bagaimana anak-anak berlawan jenis tidak lagi malu untuk jalan berdua di tempat sepi.

Perang budaya juga terlihat ketika Istana Kepresidenan mulai mempopulerkan dansa sebagai hiburan atau bentuk jamuan kepada tamu negara. Di dalam buku ini, Buya Hamka mencoba menggugat dan memperingatkan pembaca untuk melihat bahwa perang pemikiran tersebut nyata adanya. Lebih lanjut, Buya Hamka menyebutkan bahwa perang pemikiran juga sudah mulai mengancam konsep toleransi beragama.

Konstruksi sosial di masyarakat menciptakan konsep bahwa umat muslim tidak boleh terlalu taat. Apabila, seorang muslim terlalu taat maka mereka akan dicap sebagai kaum radikal. Sehingga, banyak umat muslim yang tidak berani mengekspresikann ketaatannya. Sebagai contoh, apabila seorang muslim mengadakan pertemuan dengan kaum non-islam dan tiba waktu solat, mereka memilih untuk tidak langsung pamit untuk menunaikan kewajibannya karena takut dikategorikan sebagai islam radikal.

Selain itu, konstruksi sosial di masyarakat juga membentuk wacana bahwa Islam harus bertoleransi terhadap orang-orang yang beragama berbeda agar tidak dicap radikal. Misalnya, apabila umat kristen mendirikan gereja di daerah pemukiman muslim meskipun tidak ada umat kristen di sana, maka umat muslim dituntut untuk memberikan izin sebagai wujud toleransi. Namun, apabila muslim mendirikan mesjid di pemukiman kristen maka dianggap sebagi bentuk penyelewangan kekuasaan kaum mayoritas dan melanggar aturan.

Pemikiran Buya Hamka di buku tersebut sangat relevan dengan keadaan di Indonesia saat ini, dimana umat muslim diminta bertoleransi terhadap agama lain. Padahal disaat yang bersamaan umat muslim mengalami intoleransi. Misalnya saja apa yang terjadi di pilkada dki dan beberapa kasus yang lain.

Beberapa waktu yang lalu, teman saya (bukan ktp dki) sempat bertanya. “Kenapa sih, kalau orang islam tidak memilih Ahok dianggap rasis? Kenapa kalau orang noni atau cina yang hanya mau memilih Ahok tidak dianggap rasis? Pertanyaan ini mengingatkan saya akan kekhawatiran Buya Hamka sekaligus memperlihatkan bahwa konstruksi sosial tersebut sudah tertanam dan mengakar kuat di masyarakat.

Meskipun konstruksi sosial tersebut terus berlangsung, Buya Hamka menyebutkan ghirah umat Islam terhadap agamanya masih tetap kuat. Hal ini tergambar dari kutipan berikut.

Jangan sesekali Tuan-tuan mengganggu agama kami. Apabila Tuan mengganggu maka kami tidak akan tinggal diam. Tidakkah Tuan ingat akan Tuanku Imam Bonjol dan beberapa tokoh Islam lainnya? Pada awalnya mereka tidak ingin mencampuri urusan pemerintahan. Akan tetapi, ketika Tuanku Imam Bonjol melihat mesjid dirusak dan menjadi kandang kerbau maka ia tidak tinggal diam. Ia dengan lantang menyatakan perang kepada Belanda“.

Saat ini, sejarah pun kembali terulang. Ketika umat Islam dicaci maki terhadap kepercayaan mereka kepada salah satu ayat di Al-Quran. Umat Islam tidka tinggal diam. Mereka bersatu melakukan perlawanan dengan caranya masing-masing. Pada awalnya, saya sangat pesimis dengan keadaan umat Islam di negri ini. Akan tetapi, ketika melihat perjuangan umat Islam beberapa waktu yang lalu, saya menjadi yakin bahwa masih banyak umat Islam di Indonesia yang masih taat dan mencintai agamanya.

Tulisan ini ditulis hanya sebagai refleksi diri dan penginat bagi diri sendiri. Apabila tidak ada yang berkenan atau tidak sepakat sah-sah saja. Karena setiap manusia memiliki kacamata mereka masing-masing dalam melihat dunia.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s